Colours of life: A Psychological Perspective

Semester lalu, saya mulai mengajar lagi setelah satu setengah tahun bebas dari tugas mengajar karena sedang sekolah. Salah satu mata kuliah yang saya pegang adalah Psikologi Konseling. Mata kuliah ini memang sejak dulu biasanya saya yang mengajarkannya di Psikologi UII.

Karena Prodi Psikologi sudah menerapkan Student Centered Learning, maka saya mengupayakan agar semaksimal mungkin mahasiwa dapat lebih aktif (tidak hanya mendengarkan kuliah dari power point dan mulut saya) dengan cara memberikan tugas/ PR yang lebih banyak kepada mereka. Selain itu, karena mata kuliah ini bersifat aplikatif, maka saya mencoba memberikan tugas yang bersifat aplikatif juga seperti membuat "helping behaviour diary" setelah menerangkan mengenai perilaku menolong. Harapannya, mereka menjadi lebih aktif menerapkan perilaku tersebut dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga sudah menjadi kebiasaan ketika menjadi seorang psikolog nantinya. Selain itu, diary tersebut juga mengungkap bagaimana respon orang yang mereka tolong dan perasaan mereka sendiri setelah menolong. Dengan begitu, mereka akan belajar mencermati bahwa pertolongan yang kita berikan adakalanya tepat dan adakalanya tidak tepat.

Selain itu, tugas utama yang saya berikan adalah meminta mereka untuk mencari seseorang "klien" untuk latihan konseling. Tentu bukan konseling yang sesungguhnya, karena tujuan saya adalah agar mereka melatih ketrampilan menjalin "rapport" (membangun hubungan baik dengan "klien"), mendengarkan (menangkap dengan baik dan benar apa yang diungkapkan "klien"), dan berempati. Supaya tujuan ini tercapai, maka saya meminta mereka untuk mengumpulkan rekaman "sesi konseling" yang mereka lakukan tersebut pada saat Ujian Akhir Semester. Kenapa bukan verbatimnya saja??? Karena saya ingin tahu nuansa "live" nya......lagipula verbatim khan bisa dikarang saja, sehingga mahasiswa tidak punya pengalaman riil untuk berhadapan dengan "klien".

Saat UAS pun tiba, hampir semua mahasiswa mengumpulkan rekaman yang saya minta. Tugas berat dimulai...saya harus mendengarkan sesi konseling dari tiap mahasiswa sampai kuping saya panas. Panas dalam arti harfiah karena mahasiswa saya ada 2 kelas paralel (total: 90-an orang) dan saya mendengarkannya dengan menggunakan earphone karena asas kerahasiaan yang harus saya jaga. Saya merasa bangga karena banyak di antara mereka yang mengerjakan tugas ini dengan serius (sungguh-sungguh cari "klien", berusaha dengan baik untuk menerapkan ketrampilan-ketrampilan yang diharapkan, berusaha tulus dan tidak sekadar memenuhi kewajiban/tugas dan seterusnya). Siapapun klien mereka (orang yang memang belum dikenal, teman, pacar atau keluarga sendiri), saya tidak keberatan, yang penting mereka mau mencoba dan melatihkan teori yang sudah didapat di kelas.

Uniknya...ada salah satu rekaman yang tidak akan saya lupakan.....bukan karena kasusnya yang unik, atau karena ketrampilan yang digunakan sangat dahsyat (atau sebaliknya), bukan pula karena lamanya durasi konseling yang dilakukan.....melainkan karena rekaman tersebut berisi sesi konseling yang dilakukan oleh satu orang.....yap betul SATU ORANG yang berperan sebagai konselor sekaligus sebagai klien. Jadi, ketika dia jadi konselor, dia menggunakan suaranya sendiri.....adapun ketika dia berperan (membacakan skenario) sebagai klien dipencetnya hidungnya sehingga suaranya terdengar "agak lain"....Alamak....ternyata hal yang saya hindari dari verbatim masih ada yang nekad melakukannya dalam rekaman!!!.....sebegitu sulitkah baginya mencari seorang "klien" (bahkan temannya sendiri misalnya) sehingga dia harus bersusah payah membuat skenario dan membacakannya sendiri ??? I hope his nose did not turn into red......

Yah...Bagi semua mahasiswa Psikologi....bidang kerja kita (apapun spesifikasi psikologi yang anda ambil) akan selalu berhubungan dengan manusia (orang lain)...kalaupun saat ini anda masih memiliki masalah dalam hubungan sosial anda (terlalu pendiam, pemalu, introvert, gak PD untuk mulai pembicaraan dll)....don't give up....LATIHLAH....kalo gagal....COBA LAGI.....gagal....COBA LAGI.....begitu terus.....YOU CAN DO IT !!!!......Semoga contoh "unforgetable counselling session" di atas tidak akan saya temui lagi di semester-semester yang akan datang.

August 23rd, 2008 at 7:44 am
4 Responses to “Unforgettable Counselling Session”
  1. 1
    ArdiE Says:

    wah, nekat juga tu anak... kreatif yang tidak pada tempatnya (",)

    bu, saya dan teman2 mapro mo adain program support group. namanya "colours of life: keep the spirit carries on" (saya ijin pake nama blog ibu ya...) saya terinspirasi sama kegiatan school of life yang pernah saya dengar. konsepnya tu mirip konseling kelompok. peserta 5-10 orang secara bergilir berbagi cerita pengalaman pribadi yang berkesan dan inspiratif. tapi saya bingung, teknisnya gimana ya, bu?

    oya, design blognya lebih apik yang kemarin, bu...

  2. 2
    yulianti Says:

    Monggo, silakan aja....teknis sebaiknya gak usah terlalu formal. Yang penting semua tahu maksud dibuatnya support group tersebut dan mau berbagi dengan yang lain. Kalo masalah penjadwalan dll sepakati bersama aja gimana caranya...apa perlu nunggu ada yang cerita kesulitannya minggu itu baru yang lain mensupport atau langsung ke cerita2 yang membangkitkan semangat aja.....
    Thanks komen ttg desain blog-nya. Emang sih saya juga sebenernya lebih suka desain yang kemarin, tapi karena dipake juga ama yang lain (namanya juga desain dah jadi) maka saya ganti aja biar gak kembar...mau bikin desain sendiri belum sanggup sih, he he

  3. 3
    kusprayitna Says:

    Salam
    Bu saya punya teman, kemarin anaknya yang no 1 (SMA) itu lari dari rumah, apa yang harus dilakukan ya? saya ditanyain kemarin bingung jawabnya.
    Pagi hari ia sms ke ibunya, "Bu saya pergi dulu, kalau sudah baikan nanti pulang"

    Ceritanya, kalau dirumah biasa rebutan TV dengan adik2nya (masih SD) dan sama ortu untuk pendidikan semua tidak boleh nonton acara sinetron (maklum hanya ada 1 TV dirumah). Sampai-sampai anak yang SMA tadi (putri) marah-marah, nontian acara A tidak boleh, B juga tidak boleh, matiin terus saja TV nya.

    Ini kejadian ke dua, yang pertama adalah satu tahun kemarin. Kejadiannya sama di bulan Ramadlan ini.
    Menurut analisa saya kemungkinan di bulan Ramadlan dengan jam sekolah semakin pendek sehingga di rumah banyak waktu longgar, ternyata kegiatannya kurang dan menjadi marah2.
    Saya hanya menyarankan ke teman saya untuk melibatkan anaknya yang SMA tadi ke suatu komunitas agar dapat aktifitas, yang lain tidak tahu.

    Menurut ibu bagaimana?
    Terimakasih

  4. 4
    yulianti Says:

    Wa alaikum salam pak Kus...

    Barangkali remaja anak tetangga bapak tadi merasa diperlakukan tidak adil oleh ortuya (dalam hal ini pencetusnya adalah TV. Acara TV yang dianggap sering memberi contoh buruk saat ini oleh banyak pihak memang sinetron sehingga menyebabkan ortu melarang anak-anaknya nonton sinetron. Otomatis TV mungkin jadi lebih sering disetel ke channel kartun (acara anak-anak.....bukan ABG).Padahal kalo mau dicermati sebetulnya masih ada juga segelintir sinetron yang lumayan bagus (PPT misalnya). Sebaliknya, tidak semua film kartun sebetulnya cocok untuk ditonton anak-anak, sebagian diantaranya bahkan secara tidak kita sadari dapat memberi contoh yang sama buruknya (atau bahkan lebih buruk) daripada sinetron.

    Mungkin tetangga bapak bisa berdiskusi dengan semua anaknya mengenai acara apa saja yang boleh ditonton bersama. Kartun, sinetron, dan acara lain disortir semua dan mereka dilibatkan dalam menentukan mana yang boleh, mana yang tidak (walaupun pertimbangan dr ortu tetap harus lebih besar).

    Selain itu saya setuju dengan pak Kus untuk melibatkan anak-anak (tidak hanya si remaja) dalam kegiatan lain agar teralihkan dari kecanduan nonton TV.

 

*