Colours of life: A Psychological Perspective

Selama bulan Syawal ini, setiap minggu saya mendapat banyak undangan untuk syawalan. Mulai dari Syawalan di masjid kampung tempat tinggal saya, syawalan di kantor suami, syawalan di FISB UII, syawalan dengan tetangga-tetangga yang tinggal satu jalan dengan rumah saya, maupun syawalan di sekolah anak-anak. Umumnya, saya (beserta keluarga....tergantung undangannya untuk siapa) akan berusaha untuk hadir, mumpung bisa bersilaturahim dengan banyak orang dalam satu waktu (tidak harus repot-repot mendatangi rumahnya satu persatu). Biasanya, setiap acara syawalan tidak hanya berisi halal bihalal saja. Acara pokoknya adalah pengajian, dilanjutkan dengan halal bihalal, baru kemudian makan-makan sambil ramah tamah.

Sayangnya, acara pengajian seringkali "dibarengi" dengan acara ramah-tamah oleh para undangan......dengan kata lain, ketika pak ustadz berceramah tentang hikmah syawalan, para undangan pun asyik dengan ceramah mereka sendiri-sendiri......dan menurut pengamatan saya, kondisi ini paling "heboh" di kalangan undangan ibu-ibu (sorry to say). Lucunya lagi, nampaknya undangan nggak mau kalah dengan ustadznya.....kalo ustadz mengeraskan suara (karena suara undangan menutupi suara beliau.....), maka undangan juga tidak malu-malu mengeraskan obrolan mereka.......Kalo ada ustadz yang mau mengingatkan maka perilaku undangan mereda (tapi nanti balik lagi....), kalo ustadz tidak tega menegur dan memaklumi keadaan tersebut maka berlanjutlah peristiwa itu dengan aman......Kalo dipikir-pikir, kita sudah berbuat tidak sopan gak ya terhadap ustadz yang sudah kita undang untuk mengisi acara syawalan tersebut???.....Kok kayaknya beliau cuma buat pantes-pantes saja, toh kebanyakan undangan tidak mendengarkan ceramah beliau

Inikah amalan kita setelah Ramadhan berlalu? Bukankah bulan Syawal mestinya jadi bulan peningkatan?....Kalau di bulan Ramadhan kita rajin sholat fardhu berjamaah, sholat sunnah dan mendengarkan nasehat ustadz mestinya di bulan Syawal hal-hal itu lebih rajin lagi kita lakukan. Kalau di bulan Syawal saja masjid sudah kembali sepi, dan kita asyik ngobrol sendiri ketika ustadz memberikan nasehat maka berarti "pelatihan/ penggemblengan" yang diberikan Allah selama bulan Ramadhan kepada kita belum ada bekasnya.....atau belum benar-benar menyatu dengan diri kita sehingga mudah hilang lagi.....Alangkah sayangnya...padahal belum tentu kita ketemu Ramadhan lagi di tahun depan......Mumpung Syawal belum berakhir, yuuk kembalikan semangat Ramadhan dalam diri kita......masih sempat kok untuk menjadikan Syawal ini benar-benar menjadi bulan peningkatan buat kita.....

October 22nd, 2008 at 9:50 pm
4 Responses to “Syawal Bulan Peningkatan (It should be.....)”
  1. 1
    B. Sutiyoso Says:

    Terimakasih bu, sudah diingatkan. Semoga bulan syawal betul-betul jadi bulan peningkatan.

  2. 2
    bayu Says:

    iya bu.. memang ibu2 kalo ngumpul sering demikian.. minimal pak uztad tidak ngomong sendiri, soalnya salah satu ibu2 ada yang mendengarkan beliau..
    kalo pak uztadnya menegur, ibu juga menegur y? minimal yg d sebelah kana dan kiri ibu..

  3. 3
    yulianti Says:

    Sebenarnya gak cuma satu dua ibu-ibu sih yang mendengarkan pak ustadz, tapi khan konsentrasinya jadi keganggu karena yang asyik nyaingin ceramah lebih keras suaranya.....Tulisan saya ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk teguran juga buat kita semua.....termasuk buat saya sendiri tentunya

  4. 4
    toha machsun Says:

    Assalamu'alaikum..
    taqobbalallaahu minnaa waminkum
    saya adalah seorang pemerhati akhlaq remaja.
    Soal : 1. Mengapa para remaja pada umumnya menganggap pacaran sebagai budaya yang wajib dilakukan?.2.Berasal dari manakah budaya pacaran tersebut?.3.Bagaimana cara mencegah anak agar tidak pacaran?

    atas jawabannya saya ucapkan terima kasih. jazaakumullah..

 

*