Colours of life: A Psychological Perspective

Berikut ini adalah sebuah minites kepribadian. Jawablah dulu tes ini sebelum membaca artikel di bawahnya agar hasil yang anda peroleh tidak bias.

Pilihlah salah satu jawaban yang paling sesuai dengan diri anda.

1. Proyek yang anda tangani sukses besar
a. Saya memberi pengawasan melekat pada pekerjaan setiap orang di sana
b. Semua orang telah mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk proyek tersebut » Continue Reading

September 14th, 2008 at 1:25 pm | Comments & Trackbacks (2) | Permalink

Dalam ilmu psikologi, setiap tahap kehidupan mempunyai ciri-ciri yang khas. Beberapa ahli menekankan bahwa masa kanak-kanak adalah paling penting dalam kehidupan seseorang, sedangkan tokoh yang lain mengatakan bahwa tahap kehidupan lainlah yang lebih penting. Freud misalnya, beliau mengatakan bahwa dasar kepribadian seseorang dibentuk pada masa lima tahun pertama dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu masa balita ini adalah masa yang sangat penting. Kejadian-kejadian yang dialami pada masa kecil seorang individu akan menjadi bagian dari ketidaksadaran dan mempengaruhi tahap-tahap selanjutnya dalam kehidupan individu. Sebaliknya, Jung lebih menekankan pentingnya tahap usia dewasa pertengahan (40-60 tahun) daripada tahap-tahap lainnya. Pada masa-masa ini mulai terjadi transisi dan perubahan yang banyak. Kehidupan seseorang menurut Jung, sangat ditentukan bagaimana ia mengatasi midlife crises-nya ini.

Apa itu Krisis Paruh Baya? » Continue Reading

August 30th, 2008 at 9:00 am | Comments & Trackbacks (9) | Permalink

Berikut ini adalah petikan dari tugas Mata Kuliah Bahasa Melayu yang pernah saya buat sewaktu kuliah dulu. Semoga bermanfaat bagi yang sedang ambil BM sekarang ataupun yang berminat untuk mencermati perbedaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu. » Continue Reading

August 29th, 2008 at 7:30 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Bagaimana Post Traumatic Stress Disorders mempengaruhi anggota keluarga?

Pengalaman traumatis yang terjadi pada satu anggota keluarga dapat mempengaruhi semua anggota keluarga karena gejala PTSD dan reaksi trauma lainnya mengubah perasaan dan perilaku korban trauma. Jika reaksi trauma yang terjadi tergolong berat dan berlangsung selama beberapa waktu tanpa adanya treatmen maka hal ini dapat menyebabkan masalah besar dalam sebuah keluarga.

Bukan suatu hal yang aneh apabila anggota keluarga » Continue Reading

August 26th, 2008 at 7:13 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Semester lalu, saya mulai mengajar lagi setelah satu setengah tahun bebas dari tugas mengajar karena sedang sekolah. Salah satu mata kuliah yang saya pegang adalah Psikologi Konseling. Mata kuliah ini memang sejak dulu biasanya saya yang mengajarkannya di Psikologi UII.

Karena Prodi Psikologi sudah menerapkan Student Centered Learning, maka saya mengupayakan agar semaksimal mungkin mahasiwa dapat lebih aktif (tidak hanya mendengarkan kuliah dari power point dan mulut saya) dengan cara memberikan tugas/ PR yang lebih banyak kepada mereka. Selain itu, karena mata kuliah ini bersifat aplikatif, maka saya mencoba memberikan tugas yang bersifat aplikatif juga seperti membuat “helping behaviour diary” setelah menerangkan mengenai perilaku menolong. Harapannya, mereka menjadi lebih aktif menerapkan perilaku tersebut dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga sudah menjadi kebiasaan ketika menjadi seorang psikolog nantinya. Selain itu, diary tersebut juga mengungkap bagaimana respon orang yang mereka tolong dan perasaan mereka sendiri setelah menolong. Dengan begitu, mereka akan belajar mencermati bahwa pertolongan yang kita berikan adakalanya tepat dan adakalanya tidak tepat.

Selain itu, tugas utama yang saya berikan adalah meminta mereka untuk mencari seseorang “klien” untuk latihan konseling. Tentu bukan konseling yang sesungguhnya, karena tujuan saya adalah agar mereka melatih ketrampilan menjalin “rapport” (membangun hubungan baik dengan “klien”), mendengarkan (menangkap dengan baik dan benar apa yang diungkapkan “klien”), dan berempati. Supaya tujuan ini tercapai, maka saya meminta mereka untuk mengumpulkan rekaman “sesi konseling” yang mereka lakukan tersebut pada saat Ujian Akhir Semester. Kenapa bukan verbatimnya saja??? Karena saya ingin tahu nuansa “live” nya……lagipula verbatim khan bisa dikarang saja, sehingga mahasiswa tidak punya pengalaman riil untuk berhadapan dengan “klien”. » Continue Reading

August 23rd, 2008 at 7:44 am | Comments & Trackbacks (4) | Permalink