Colours of life: A Psychological Perspective

Beberapa teman di staf UII blogs memang telah menuliskan tentang komunikasi efektif, tidak dilarang khan kalau saya menuliskannya dari perspektif yang lain. Kekurangan yang ada pada artikel ini mudah-mudahan dapat dilengkapi oleh tulisan teman-teman yang lain.

Komunikasi efektif bukanlah suatu hal yang kita lakukan kepada orang lain, tetapi suatu aktivitas yang kita lakukan dengan/ bersama orang lain. Dalam hal ini, komunikasi antar individu menjadi mirip dengan menari (yang berpasangan). Seperti halnya menari atau berdansa berpasangan, komunikasi bergantung pada keterlibatan kita dengan partner. Oleh karenanya postingan ini berjudul interactive communication.

Sebuah komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada orang yang memulai atau memimpin komunikasi tersebut. Seorang penari atau pedansa yang terampil tetapi lupa untuk mempertimbangkan atau menyesuaikan diri dengan tingkat keterampilan yang dimiliki oleh partnernya dapat membuat keduanya tampil buruk. Dalam tarian maupun komunikasi, bahkan dua orang partner yang sangat berbakat sekalipun belum bisa dijamin sukses. Ketika dua penari yang sangat terampil menari tanpa mengkoordinasikan gerakan mereka, hasilnya adalah tarian yang buruk. Seperti halnya menari, hubungan dalam komunikasi adalah suatu bentuk yang unik dari interaksi kedua belah pihak.

Cara kita berkomunikasi dengan satu orang hampir pasti akan bervariasi dengan cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Contohnya: komunikasi kita dengan orang tua pastilah berbeda dengan cara kita berkomunikasi kepada anak-anak kita, cara kita berkomunikasi kepada atasan mungkin akan berbeda dengan cara kita berkomunikasi dengan teman sejawat maupun bawahan, komunikasi kita dengan mahasiswa akan berbeda dengan komunikasi kita dengan orang yang tidak sekolah, cara kita berkomunikasi dengan orang normal akan berbeda dengan komunikasi kita dengan orang “sakit” dan seterusnya. Yang penting adalah bagaimana kita menempatkan diri kita agar kita dapat menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain. Kekurangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik akan menimbulkan banyak kesulitan dalam hidup kita.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas suatu komunikasi antara lain adalah:

  1. Gambaran diri, yaitu bagaimana kita melihat diri sendiri dalam hubungan dengan manusia lain.
  2. Gambaran mengenai pihak lain. Bagaimana kita memandang pihak lain yang diajak berkomunikasi tentu akan mempengaruhi model komunikasi yang kita lakukan
  3. Ketrampilan mendengarkan. Mendengarkan (to listen) merupakan suatu proses yang dilakukan dengan perasaan dan pikiran, sedangkan mendengar (to hear) hanya merupakan kegiatan fisik saja. Selanjutnya penafsiran dari sesuatu yang didengar bergantung kepada pengetahuan serta pengalaman pendengar. Oleh karena itu kesediaan serta kemampuan kita dalam mendengarkan merupakan faktor penentu dalam efektivitas suatu komunikasi.
  4. Kejelasan pernyataan, meliputi penggunaan kata, penyusunan kalimat, intonasi dan lain-lain
  5. Respon, yaitu suatu tanggapan yang dikembalikan oleh orang yang kita ajak berkomunikasi dalam bentuk kata-kata, gerakan, maupun ekspresi wajah.
  6. Emosi. Mengenali, mengakui dan mengungkapkan kondisi emosi yang dialami dapat membantu komunikasi menjadi lebih efektif
  7. Membuka diri. Tidak ada komunikasi yang dapat berjalan efektif bila hanya satu pihak saja yang mau membuka diri, sedangkan pihak lainnya menutup diri. Keterbukaan berarti kemampuan bicara secara jujur dan lengkap mengenai diri sendiri, dan kemampuan untuk mendengarkan pernyataan orang lain mengenai diri kita.

Let it be a dance we do

May I have this dance with you?

Through the good times

And the bad times, too,

Let it be a dance

Learn to follow, learn to lead

Feel the rhythm, fill the need

To reap the harvest, plant the seed

And let it be a dance

Morning star comes out at night,

Without the dark there is no light

If nothing’s wrong, then nothing’s right

Let it be a dance

(Ric Masten)

August 23rd, 2008 at 6:31 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Trauma psikologis dapat muncul jika seseorang menyaksikan atau mengalami suatu peristiwa yang menyebabkan perubahan dramatis yang mempengaruhi bagaimana hal itu direkam dalam sistem syaraf. Trauma dapat mencakup pengalaman riil atau pengalaman hampir mendekati kematian atau luka-luka serius dan ancaman fisik yang luka-luka/ kerugian bagi orang lain dan dirinya (Hiew, 2000).

Jenis-jenis trauma sendiri dapat dibedakan sebagai berikut: 1) Trauma yang disebabkan oleh bencana seperti bencana alam (gempa bumi, banjir, taufan), kecelakan, kebakaran, menyaksikan kecelakaan atau bunuh diri, kematian anggota keluarga atau sahabat secara mendadak, mengidap penyakit yang mematikan (AIDS, kanker). 2) Trauma yang disebabkan individu menjadi korban dari interperpersonal attack seperti: korban dari penyimpangan atau pelecehan seksual, penyerangan atau penyiksaan fisik, peristiwa kriminal (perampokan dengan kekerasan), penculikan, menyaksikan perisiwa penembakan atau tertembak oleh orang lain. 3) Trauma yang terjadi akibat perang atau konflik bersenjata seperti: tentara yang mengalami kondisi perang, warga sipil yang menjadi korban perang atau yang diserang, korban terorisme atau pengeboman, korban penyiksaan (tawanan perang), sandera, orang yang menyaksikan atau mengalami kekerasan. 4) trauma yang disebabkan oleh penyakit berat yang diderita individu seperti kanker, rheumatoid arthritis, jantung, diabetes, renal failure, multiple sclerosis, AIDS dan penyakit lain yang mengancam jiwa penderitanya.

Persepsi dan Respon terhadap Trauma

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) adalah konsekuensi jangka panjang dari trauma dimana gejalanya bertahan lebih dari satu bulan. Dalam kejadian-kejadian traumatis, seringkali tanda-tanda, suara, bau dan hal-hal lain terhubung dengan kesadaran dan ketidaksadaran serta respon tubuh sebagai memori tentang peristiwa tersebut. Hal-hal ini menjadi pemicu yang mengakibatkan terjadinya reaksi yang intensitasnya sama dengan kondisi aslinya dulu. Sejumlah memori dapat diingat individu dengan sangat jelas, tapi beberapa aspek mungkin hilang atau tidak dapat diingat lagi. Dikatakan bahwa 10-80% korban trauma dapat mengalami PTSD, khusus untuk anak-anak berbagai penelitian Hiew mendapat hasil satu dari tiga anak yang mengalami trauma dapat mengalami PTSD.

PTSD disebut akut jika gejalanya bertahan kurang dari tiga bulan, dan disebut kronis jika gejalanya menetap selama tiga bulan atau lebih. Delayed onset terjadi jika gejala mulai muncul minimal enam bulan sesudah kejadian. Gejala PTSD sendiri biasanya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: reexperiencing symptoms, avoidant symptoms, and hyper arousal symptoms.

August 21st, 2008 at 11:01 am | Comments & Trackbacks (1) | Permalink

Latihan Mendengarkan dan Berempati

Mendengarkan dan merespon secara empatik adalah ketrampilan penting dalam berhubungan dengan orang lain. Sebagian besar dari manusia menghabiskan 70% waktunya untuk berkomunikasi, 45% dari waktu itu digunakan untuk mendengarkan. Kita semua ingin didengarkan. Adalah suatu penghinaan apabila kita diabaikan atau dilalaikan. Kita semua mengetahui apa artinya mendengarkan, sebenar-benarnya mendengarkan. Mendengarkan tidak berarti sekedar mendengar kata-kata, melainkan sungguh-sungguh menerima dan memahami pesan orang lain dan juga perasaan dan situasinya. Empati berarti memahami orang lain dengan sangat baik sehingga anda merasa seperti dirinya (pikiran & perasaan). Psikolog yang baik melakukan ini, demikian juga teman yang baik (Berger, 1987).

Tujuan mendengarkan dan berempati kepada orang lain:

  1. Menunjukkan anda peduli dan memahami orang lain. Dengan demikian orang akan senang berbincang dengan anda dan akan lebih terbuka.
  2. Jika anda salah mengerti, orang yang mengajak bicara dapat dengan seketika mengoreksi sehingga anda dapat belajar lebih banyak tentang orang.
  3. Pada umumnya mengarahkan percakapan ke arah topik emosional penting.
  4. Membiarkan orang yang mengajak bicara mengetahui bahwa anda menerima dia dan mempersilakannya untuk membicarakan topik yang lebih pribadi.
  5. Karena aman untuk berbincang tentang masalah yang mendalam, orang yang bicara dapat menyatakan perasaannya dan mengeksplorasi dirinya terkait dengan emosi yang terdalam
  6. Hal ini dapat mengurangi kejengkelan kita pada orang yang lain sebab kita memahami. Dengan memahami kita dapat memaafkan.
  7. Mungkin hal ini bahkan dapat mengurangi prasangka kita atau asumsi negatif tentang orang lain sebab kita menyadari bahwa kita harus mengetahui bagaimana sesungguhnya orang tersebut,
  8. Empati dapat mendorong persahabatan yang lebih berarti, lebih menolong dan lebih dekat.

Empati adalah salah satu dari ketrampilan penting yang perlu anda peroleh. Sangat sedikit orang yang dapat melakukannya dengan baik.


Langkah-langkah latihan berempati

Langkah Pertama: Belajarlah menjadi pendengar aktif yang baik.

Untuk mendengarkan kita perlu:

  1. Benar-benar ingin tahu tentang orang lain.
  2. Hindarilah penghalang yang sering mengganggu proses mendengarkan, seperti (1) terus menerus membandingkan diri anda dengan pembicara (Siapa lebih pandai? Siapa lebih kuat? Ini terlalu sulit buat saya...), (2) berusaha mengira-ira apa yang sebenarnya dipikirkan orang yang sedang bicara (Apakah ia benar-benar menyukai isterinya? Ia mungkin berpikir aku dungu jika menanyakan hal itu), (3) Merencanakan cerita atau argumentasi apa yang selanjutnya akan diberikan, (4) Filtering/ melakukan penyaringan sedemikian sehingga orang hanya mendengar topik tertentu atau tidak mendengar hal-hal yang kritis, (5) Judging/menghakimi suatu statemen sebagai hal yang " bobrok/gila," "membosankan," " dungu," " kekanakan," " berbahaya," dan lain lain sebelum orang itu selesai bercerita, ( 6) Melamun sendiri, (7) Mengingat-ingat pengalaman pribadi kita sendiri sehingga tidak memperhatikan orang yang bicara, (8) Sibuk merencanakan saran yang akan diberikan jauh sebelum orang yang sedang bicara menyelesaikan ceritanya, (9) Menganggap setiap percakapan adalah debat intelektual yang tujuannya untuk menundukkan musuh, (10) Percaya bahwa anda selalu benar sehingga tidak perlu mendengarkan, (11) Cepat-cepat mengubah topik pembicaraan atau mentertawakannya jika topik menjadi serius, dan (12) “Berdamai” dengan otomatis mengiyakan segalanya (" Kamu adalah benar...tentu saja...saya setuju") ( Mckay, Davis & Fanning, 1983).

Tidak mudah untuk mendengarkan dengan aktif sepanjang waktu. Konsentrasi kita bertahan hanya 15-20 menit, setelah itu perhatian kita bisa terpecah. Tetapi pendengar yang baik akan segera kembali ke jalur semula dan bertanya jika ada hal-hal yang kurang jelas. Yang terpenting, kita harus menjaga dari prasangka, pendapat yang closed-minded , defenses, dan takut salah yang biasanya justru menghalangi kita dari mendengarkan apa yang dikatakan. Kita juga harus memperhatikan ekspresi wajah dan gerak tubuh dari orang yang bercerita.

If we were supposed to talk more than we listen, we would have two mouths and one ear
-Mark Twain

Langkah Kedua: Memahami Apa yang terlibat dalam memberi repon yang empatik

Pendengar yang baik harus memberi respon agar pembicara mengetahui bahwa dia dipahami. Memberi respon bahkan lebih rumit dibanding mendengarkan; tak seorangpun sempurna. Anda tidak harus sempurna, tetapi semakin akurat semakin baik. Pendengar yang baik akan fokus pada perasaan pembicara, bukan pada keadaan atau tindakannya. Contoh: Ketika bicara dengan seseorang yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya, jangan tanyakan " Apa yang telah dia katakan?" atau " Sejak kapan kamu orang curiga ini akan terjadi?"

Sebaiknya kita perhatikan dan refleksikan perasaannya seperti “Ini benar-benar menyakitkan ya" atau " Kamu pasti merasa ditinggalkan dan kehilangan."

Fokus pada perasaan ini mendorong pembicara untuk menyelidiki inti masalahnya. Ketika kita memiliki masalah, kita harus membahas dan menangani perasaan kita dulu sebelum kita dapat berkonsentrasi pada memecahkan permasalahan.

Berikut ini adalah beberapa respon yang tidak empatik: Refleksi yang tidak akurat atau komentar yang mengacaukan.

  • Mengubah topik pembicaraan: seorang teman sedang mengeluh tentang suatu tugas sekolah dan anda katakan, " Ada film bagus nanti malam di TV."
  • Respon " Aku tahu lebih baik daripada kamu": Ini adalah respon prematur seperti " Tak ada yang salah dengan kamu. Kamu akan merasa lebih baik besok" atau " Masalah sesungguhnya adalah bahwa ibumu yang merusakmu" atau " Kamu sedang jatuh cinta, sehingga kamu tidak bisa melihat keburukannya
  • Judgmental responses: Seseorang menceritakan bahwa mereka minum beberapa bir semalam dan anda katakan, " Aku berharap kamu tidak mengemudi, kalau tidak kamu bisa membunuh seseorang." Ini mungkin adalah suatu reaksi yang bertanggung jawab tetapi itu bukan empatik
  • Respon menasehati: Seorang pria berusia 35 tahun menceritakan bahwa ia ketakutan untuk kembali kuliah dan anda dengan seketika menceritakan kepadanya perguruan tinggi mana yang baik, jurusan apa yang sebaiknya diambil, buku apa yang perlu dibeli, dan lain lain
  • Menganggap remeh dan menenteramkan hati secara prematur: Seorang teman menceritakan bahwa suaminya tidak pulang semalam dan anda berkomentar, " Aduh, semua orang pernah mengalaminya, tidak usah khawatir. Ia akan pulang malam ini." Ini seperti memberi tanda bahwa kita berkata, " Jangan bicarakan lagi hal itu dengan aku."
  • Melakukan "Psychoanalysis": Seorang teman pria menguraikan ketakutannya untuk menikah dan anda menjelaskan kepadanya bahwa ia terlalu terlibat secara emosional dan bahwa ia ketakutan bahwa seorang isteri akan mendominasi dan “mencekiknya” seperti ibunya melakukan hal itu. Ini mungkin benar, tetapi biarkan dia mengeksplor dirinya dan menemukannya sendiri.
  • Mempertanyakan hal-hal yang tidak tepat: Seorang teman mengisyaratkan beberapa masalah dalam keluarganya dan anda mulai menyelidik, " Apakah kalian sudah membicarakannya?" " Pernahkah kalian pergi sama-sama?" Pertanyaan yang mengarahkan percakapan tidak terlalu baik; biarkan orang yang bicara menceritakan dengan jalannya sendiri. Di sisi lain, mempertanyakan sesuatu untuk memperjelas apa yang diuraikan orang yang bicara tidak sama dengan mengendalikan, hal itu bahkan dapat mendorong pembicara untuk berbicara lebih banyak.
  • Menceritakan pengalaman anda sendiri: Masalah teman itu mengingatkan anda pada suatu pengalaman serupa yang ingin anda bagi. Hal itu tidak salah, kecuali jika anda kemudian terlalu asyik sehingga lupa untuk segera kembali ke masalah teman anda tadi

August 16th, 2008 at 8:49 pm | Comments & Trackbacks (3) | Permalink

I'm a lover, I'm not a fighter,
Hold me close and I'll take you higher than you've ever been,

Raise your hands and lay down your weapons,
We could turn this around in seconds flat,
If you believe.

[Chorus:]
Home is where the heart is,
It's where we started,
Where we belong, singing.
Home is where the heart is,
It's where we started,
Where we belong.

Light a fire and write a sonnet,
Pin your hopes and your dreams upon it now, come and sing with us
Calling out to your children's children,
Let there be love and let them scream it loud,
Before we bite the dust.

So come on!

[Chorus]

In these troubled days of anger,
We're afraid of every stranger,
But today we're changing history,
It's OK to sing it with me

Now's your chance think of your lovers,
We are all sisters and brothers.
Now's your chance think of your lovers,
We are all sisters and brothers.

Home, home
Home is where the heart is,
It's where we started,
Where we belong

Teristimewa buat keluargaku di Malaysia (Rina, Yeni dan Febi) dan Singapura (mas Eko, mbak Irma, Muthia, Fariz dan Fatih)....love you all

August 14th, 2008 at 8:11 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Untuk menghadiri acara wisuda di UKM (yang hanya dilakukan setahun sekali...beruntunglah para mahasiswa di UII yang wisudanya dilaksanakan 2 bulan sekali), saya mesti kembali datang ke Malaysia. Jadwal wisuda saya ditetapkan tanggal 11 Agustus 2008 (padahal saya dah selesai Desember 2007), tetapi karena saya harus ikut gladi resik tgl 7 Agustus, maka tanggal 6 siang saya beserta keluarga berangkat ke Kuala Lumpur melalui Bandara Adisucipto. Rencananya kami akan tinggal di sana sampai tanggal 11 Agustus sore, malamnya kami akan naik kereta api untuk mampir ke rumah kakak saya di Singapura selama 2-3 hari (sekalian deh, soalnya bayar fiskalnya mahal je).

Pada waktu mau berangkat, saya sudah tahu kalau visa pelajar saya akan habis pada tanggal 10 Agustus 2008 dan saya tetap tenang-tenang aja karena saya fikir nanti di bandara saya akan dikasih visa kunjungan sosial atau kalo gak ya nanti sesampainya disana saya akan urus perpanjangannya (special pass satu bulan) di kantor imigrasi Malaysia.

Sesampainya di Bandara Adisucipto kami segera check-in di konter Airasia...masalah dah nampak gejalanya....petugas di konter menanyakan mengapa tiket kami hanya satu arah, kapan kami akan kembali ke Yogya lagi? Saya jelaskan bahwa saya tidak balik ke Indonesia melalui Kuala Lumpur lagi karena kami akan ke Singapura. Dia bertanya lagi " Kalo gitu tiket ke Singapura-nya mana?"....Yah saya terangkan jugalah kalo kami ke Singapura-nya naik kereta api. Trus dia bilang kalo sebetulnya semua penerbangan Malaysia dilarang untuk membawa penumpang yang belum punya tiket pulang, dan katanya mereka akan kena penalti kalo melanggar ketentuan tersebut (tahu deh bener gaknya). Dia kemudian meminta kami untuk menandatangani sebuah surat yang (kalo gak salah ingat) menyatakan bahwa kami tetap berangkat atas keinginan kami sendiri dan bersedia menanggung resiko apapun (termasuk kalo dah nyampe KL ternyata disuruh balik lagi ke Yogya oleh petugas imigrasinya sana) dan tidak akan menuntut apa-apa pada maskapai penerbangan mereka. Akhirnya kami tetap bisa berangkat juga.

Sampai di bandara Kuala Lumpur, petugas imigrasi Malaysia tidak menanyakan sedikitpun tentang tiket pulang.....Pasport suami dan anak-anak dengan lancar segera dapat cap social visit.......yang jadi masalah adalah pasport saya dengan visa pelajar yang umurnya tinggal 3 hari itu....Dia ingatkan saya bahwa visa pelajar saya tinggal 3 hari lagi....saya bilang saya tahu, tapi saya harus menghadiri wisuda pada tgl 11....saya tanya trus gimana? Boleh gak saya minta social visit 1 bulan? Dia kemudian turun untuk bertanya pada atasannya. Setelah kembali, petugas itu bilang bahwa dia tidak diperkenankan memberi social visit karena visa pelajar saya harus dibatalkan dulu, sehingga saya diminta segera mengurus ke kantor imigrasi Putra Jaya sebelum masanya berakhir. Ya sudahlah fikir saya.....toh saya masih sempat untuk mengurusnya.

Karena tanggal 7 saya ikut gladi resik, maka tanggal 8 saya baru mengurus perpanjangan visa tersebut. Sesuai petunjuk petugas imigrasi bandara, saya ditemani dua orang sahabat pergi ke kantor imigrasi Putrajaya....sesampainya disana kami ikut antrean panjang. Ketika tiba giliran saya, petugas mengecek visa saya dan mengatakan bahwa urusan imigrasi kampus UKM masih berada di imigrasi Damansara sehingga data saya tidak ada di PJ dan mereka tidak bisa membantu saya (kok aneh ya....masak gak online ya datanya dengan kantor imigrasi lainnya???)...Atas saran mereka, pergilah kami ke Damansara....ikut antrean lagi (plus break sholat Jumat)

Selesai break sholat Jumat (02.45 p.m) kami menemui petugas di bagian visa pelajar dan menerangkan keperluan kami....lagi-lagi saya apes (mungkin karena ke'lugu"an saya sendiri juga yang gak tahu aturannya)...Petugas tersebut mengatakan bahwa semua urusan visa pelajar harus diurus oleh perwakilan IPTA (pegawai kantor imigrasi tiap-tiap universitas) dan tidak boleh diurus oleh pelajar sendiri...walaupun berbagai argumen sudah kami keluarkan (kami tidak tahu aturan tersebut dan kami dah jauh-jauh datang ke PJ dan Damansara, tidak sempat lagi kalo harus balik ke kampus UKM dulu karena jam-nya dah mepet dan kantor urusan imigrasi kampus tiap Jumat mesti rame karena mereka hanya buka 2x seminggu dll) mereka tetap tidak bergeming....betul-betul TEGUH KUKUH BERLAPIS BAJA....ampun deh, saya dah mau nyerah aja....sudahlah, kalo terpaksa ya nanti saya bela-belain keluar dulu (Singapura) sebentar trus balik masuk lagi tanggal  10 malam jam 12.01 (setelah visa pelajar habis) supaya dapat social visit....Untungnya, pada saat saya sudah mau menyerah gitu, salah seorang sahabat saya tadi kreatif....dia naik ke lantai 4 untuk bertanya ke petugas bagian social visit....Untunglah dia mendapat jawaban yang lebih mengenakkan di sana...katanya mereka mau bantu...maka naiklah kami bertiga ke lantai 4 untuk menemui petugas tersebut, setelah melihat pasport saya dan menanyakan tujuan saya di situ dia bersedia untuk memberi visa kunjungan sosial....tapi dia minta kami ke lantai 3 dulu (bagian visa pelajar) untuk meminta mereka membatalkan visa pelajar saya (karena mereka tidak boleh memberi dua visa yang masih berlaku pada masa yang bersamaan)

Yap...dengan semangat yang mulai bangkit lagi kami turun lagi ke lantai 3 untuk menemui petugas visa pelajar dan menyampaikan pesan dari petugas di lantai 4.....Ternyata...mereka betul-betul kekeuh....pembatalan visa pun harus melalui petugas IPTA, gak boleh sendiri....minimal dia harus bicara dengan petugas IPTA-nya lewat telefon...Katanya nanti ada urusan di kampus yang belum kami bereskan (padahal saya udah bawa bukti bahwa saya sudah tinggal wisuda, tidak punya hutang uang kuliah atau pun pinjaman buku ke kamus) ....Kami sudah terangkan bahwa kami tidak tahu nomer telefon petugas IPTA UKM dan sudah berusaha nyari lewat teman-teman tapi tidak ada yang tahu (satu orang tahu tapi tidak berani memberitahu saya karena mungkin petugas tersebut sudah berpesan untuk tidak memberikan nomernya pada para pelajar lain)....Akhirnya petugas itu memberikan nomer telefon petugas IPTA yang kami cari....Masya Allah....telefon tidak diangkatnya.......bahkan ketika petugas konter itu sendiri yang mencoba menghubungi. Oleh karenanya dia hanya mau memberikan surat pernyataan bahwa kami sudah datang menghadap ke Damansara untuk mengurus perpanjangan visa pelajar tapi tidak dapat diproses karena tidak ada petugas IPTA. Surat itu katanya  bisa dipake untuk meminta pengecualian dari denda overstay (RM 500)  kalau kami tidak berhasil menemui petugas IPTA dari UKM pada hari itu (karena tgl 9 dan 10 adalah Sabtu dan Minggu sehingga kantor imigrasi tutup). Ya wis....kami udah mau pulang....

Tiba-tiba teman saya tadi kreatif lagi....diajaknya kami naik ke lantai 4 lagi untuk minta tolong petugas bagian social visit tadi lagi.....beliau sendiri bingung kenapa temannya di lantai 3 begitu kaku tidak mau membatalkan visa pelajar saya. Akhirnya beliau menyarankan kami untuk menjumpai atasan bagian visa pelajar...dari situlah urusan dilancarkan Allah (terima kasih ya encik di bagian social visit)....Atasan bagian visa pelajar mengijinkan saya mendapatkan special pass sesuai permintaan.....Akhirnya, setelah  mengalami kejadian yang berliku seharian itu (mulai piknik ke PJ sampai Damansara tingkat 3 & 4 berulang-ulang) tepat jam 5 petang (jam tutup kantor) saya mendapatkan stempel special pass dengan membayar biaya resmi RM 100.....Alhamdulillah, urusan selesai dan saya aman dari kemungkinan menjadi pendatang haram.

Pulangnya....waktu kami ngobrol di taksi, supir taksinya ikut nimbrung. Katanya dia juga sebel dengan petugas kantor imigrasi karena seringkali mereka mempersulit orang-orang yang seharusnya mereka bantu dan memilih untuk memfasilitasi para calo (kayaknya di negara kita hampir sama yah???). Beliau juga cerita bahwa baru-baru ini salah satu atasan di bagian imigrasi tersebut barusan ditangkap polisi karena kasus suap, jadi mungkin juga "ketidakberuntungan" kami tadi karena atasan yang baru lebih ketat dan anak buahnya gak mau ikut ditangkap seperti bos lamanya (padahal kami gak mau nyuap lho.....)....oh pantesan aja....soalnya sebelum-sebelum ini kami sudah mendapat cerita dari beberapa orang yang kasusnya sama dengan saya. (1) Teman saya yang kreatif tadi langsung dapat social visit dari imigrasi KLIA (2) seorang teman yang lain (sama sama dari UKM) pernah mengalami hal yang sama dan berhasil ngurus special pass dari imigrasi Putrajaya (yang katanya gak punya data kami tadi itu lho) dengan membayar biaya resmi RM 75 (3) seorang kawan dari teman saya yang kreatif tadi pernah mengurus special pass di bagian visa pelajar di imigrasi Damansara dengan kondisi sama seperti saya (visa akan segera habis, tidak ada petugas IPTA) dan langsung diberi special pass tanpa harus ribet kayak saya tanpa harus bayar sepeser pun. Betul-betul aneh tapi nyata....peraturan yang sama ternyata bisa diterapkan secara berbeda pada waktu dan tempat yang berbeda....

Lessons of the day:

  1. Bagi pelajar asing di Malaysia: Kalo mau wisuda dan waktunya masih lama, cek dulu sampai kapan visa pelajar anda berlaku....kalo habis pada bulan Agustus (bulannya wisuda), mending urus perpanjangan visa pelajar dulu sebelum pulang ke negara asal....yah minimal nanya dululah ke petugas IPTA di kampus masing-masing gimana prosedur pengurusannya.
  2. Kalo terpaksanya kayak saya (visa pelajar udah mau habis), masuk lagi ke Malaysia-nya jangan lewat LCCT, belilah tiket pesawat yang masuknya ke KLIA karena teman saya (yang kreatif tadi) sebetulnya visa pelajarnya juga udah mau habis kayak saya, tapi oleh petugas bandara di KLIA dia langsung dikasih social visit tanpa harus repot-repot ke Damansara dulu.....Katanya sih petugas di LCCT emang lebih galak-galak karena LCCT biasanya jadi pintu masuknya para TKI....(So what gitu loh)
  3. Jangan menyerah...be creative seperti teman saya Lina yang begitu gigih untuk berjuang (dengan cara yang benar....murni tanpa suap)
  4. Make a lot of friends and be nice to your friends......sebab merekalah yang akan menolongmu kalau suatu saat nanti anda mengalami kesulitan. Thanks to Lina and Ifet....tanpa kalian mungkin saya gak bisa jalan-jalan dengan keluarga saya dan datang ke wisuda dengan wajah kuyu karena baru nyampe dari Singapura langsung ke kampus, he he he......
August 12th, 2008 at 11:17 pm | Comments & Trackbacks (6) | Permalink